Muhammad Noer, Gubernur Jatim Penggagas Jembatan Suramadu

  • Bagikan
M Noer. ©voa-islam.com

matajatim.id-Ketika orang Madura ditanya nama Gubernur Jawa Timur. Jawaban pasti Muhammad Noer. Meski dikoreksi salah. Orang Madura itu tetap ngotot bahwa Gubernur Jawa Timur adalah  Muhammad Noer. Sedangkan yang menjabat Gubernur Jatim saat ini hanya penggantinya.

Anekdot ini menandakan bahwa Raden Panji Muhammad Noer adalah seorang mantan Gubernur Jawa Timur yang legendaris. M Noer juga yang menggagas Jembatan Surabaya Madura (Suramadu).

Muhammad Noer pernah menjabat sebagai Gubernur Jatim selama 9 tahun pada periode 1967-1976. Gubernur Jatim ketujuh ini memiliki inisiatif untuk membangun Jembatan Suramadu agar akses antara Madura dan Surabaya bisa lebih mudah.

Gagasan itu ternyata sudah ia idamkan sejak M Noer menjadi Wakil Bupati Bangkalan pada 1950.

Selama menjabat sebagai Gubernur Jatim pada masa nya, M Noer sangat populer di hati rakyatnya, terkhusus warga Madura.

Pria kelahiran Sampang, 13 Januari 1918 ini kerap melakukan kunjungan ke desa-desa setempat. Dirinya sadar bahwa mayoritas warganya di desa kebanyakan adalah buta huruf dan petani miskin. Oleh karena itu, dia bisa benar-benar memetakan solusi untuk membantu rakyat kecil hidup sejahtera.

Tak hanya menjadi Gubernur Jatim, Noer juga sempat menjabat Wakil Bupati Bangkalan, Bupati Bangkalan, anggota MPR RI, dan Duta Besar RI di Prancis. Dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional, dia juga sering memperkenalkan Indonesia melalui diplomasi kebudayaan.

Noer adalah sosok yang disiplin sejadari kecil. Sampai usia senjanya, ia mengajarkan kedisiplinan pada anak-anak dan cucu-cucunya. Ia dapat hidup dengan teratur. Tiap hari ia tidur pukul 22.00 dan bangun pukul 04.30. Setelah salat shubuh dan mandi, ia membaca koran atau majalah, baru kemudian sarapan.

Noer memiliki hari khusus di tiap pekan untuk kontrol kesehatan ke dokter. Ia juga rajin berenang. Makan makanan sehat, cek kesehatan, olahraga, dan menghindari rokok bisa dilakukan Noer dengan kedisiplinan tinggi. Tak heran jika usia hidupnya mencapai 92 tahun. Setelah nafasnya berakhir, beliau pun dimakamkan di Kampung Morkompah, Sampang, Madura. (tempo/kominfo/Akbar Danis)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *