Medsos Mengungguli Koran

  • Bagikan
Koran Kalah Pamor
ilustrasi

matajatim.id-Begawan Media, Dahlan Iskan harus mengakui jika media cetak, seperti koran sudah kalah pamor dengan media sosial (medsos).

Pernyataan Dahlan Iskan ini ditulis melalui situs disway, Jumat 24 September 2021 berdasar hasil survei yang dilakukan Dewan Pers, beberapa waktu lalu.

Hasil survei di atas bukan hal baru. Pada 2018, riset Pew Research mengungkap bahwa satu dari lima orang dewasa Amerika Serikat (AS), sering mendapatkan informasi dari media sosial ketimbang koran cetak.

Dahlan Iskan seperti ingin menegaskan setelah setahun lalu ia mendirikan media cetak yang diberi nama harian disway. Tapi pembaca masih lebih memilih berita dari medsos.

Berikut tulisan lengkapnya:

SAYA tidak bisa marah. Apalagi menolaknya: hasil penelitian itu. Bahwa kepercayaan masyarakat kepada koran ternyata tidak lebih tinggi dibanding kepada medsos.

Dari 1.020 responden, 32 persen mengatakan tidak percaya pada koran. Angka itu kurang lebih sama terhadap medsos. Atau terhadap televisi.

Berita baiknya: 30 persen masyarakat tidak percaya pada media. Apa saja. Berarti masyarakat sudah lebih independen.

Kabar buruknya: kepercayaan pada media online meningkat. Kepercayaan pada surat kabar menurun.

Itu kabar buruk bagi saya saja. Bukan bagi Anda.

Tahun lalu saya ngotot mendirikan media cetak: Harian Disway. Di Surabaya. Asumsi saya: jurnalisme media cetak akan lebih baik dari jurnalisme online. Dengan demikian media cetak bisa lebih dipercaya.

Hasil penelitian itu seperti menohok saya. Itulah penelitian yang dilakukan Dewan Pers bekerja sama dengan Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) Jakarta. Yang pokok-pokok hasilnya dibeberkan Hendry Ch Bangun dari Dewan Pers.

Kemarin, Serikat Penerbit Pers (SPS) berulang tahun ke-75. Ditandai dengan Zoominar. Bukan saya lagi ketua umumnya. Saya hanya jadi salah satu pembicara.

Saya terkaget-kaget ketika Bangun menampilkan angka-angka penelitian itu.

Yang juga menarik adalah: mengapa mereka tidak percaya pada koran. Hampir 40 persen mengatakan beritanya tidak bisa dipercaya. Koran itu juga dinilai partisan. Dan wartawannya kurang kompeten.

Berita baiknya: itu pula yang menjadi alasan mengapa responden tidak percaya pada berita medsos dan TV.

“Kepercayaan pada online meningkat sedikit menjadi 42 persen. Kepercayaan kepada koran menurun menjadi 37 persen,” ujar Bangun yang baru saja pensiun dari harian Kompas. Bangun pernah menjabat pemimpin redaksi di sana.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *