Orang Kere Baru

  • Bagikan
Orang Kere Baru
Dhimam Abror Djuraid

matajatim.id-Sengsara membawa nikmat. Selalu ada hikmah di balik bencana. Itulah yang terjadi di Indonesia sekarang ini.

Bencana pandemi yang membawa sengsara, ternyata ikut membawa berkah.

Ketika jutaan orang menjadi kere, ternyata banyak yang malah menjadi kaya raya.

Ada yang sudah lama kaya dan menjadi lebih kaya raya karena pandemi.

Ada yang kaya dadakan karena dalam beberapa bulan saja hartanya melipatganda sepuluh kali lipat.

Yang kaya dadakan ini layak disebut sebagai OKB alias orang kaya baru.

Yang masuk kategori orang tajir dadakan mungkin hanya beberapa gelintir orang saja.

Tapi, ternyata ada jutaan orang yang juga menjadi OKB gegara pandemi. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, sampai 2,7 juta orang. Yang ini bukan orang kaya baru, tapi Orang Kere Baru.

Di antara OKB tajir itu ada nama sejumlah menteri dan pejabat. Seorang menteri yang baru menjabat sembilan bulan ternyata kekayaannya sudah menambah Rp 10 miliar.

Para menteri lainnya semua menambah kekayaan miliaran rupiah.

OKB dadakan juga muncul dari orang-orang yang mengantongi keuntungan dari bisnis pandemi.

Data terbaru dari ICW (Indonesia Corruption Watch) menyebutkan bahwa dari bisnis tes PCR saja para pengusaha bisa menangguk untuk Rp 10 triliun sampai Rp 50 triliun.

Mereka ini menjadi OKB dadakan karena mendapat berkah pandemi.

Tapi ada juga OKB yang menderita karena pandemi. OKB yang ini bukan orang kaya baru, tapi ‘’Orang Kere Baru’’.

Data terbaru menunjukkan bahwa setahun pandemi telah membuat 2,7 juta orang Indonesia menjadi miskin.

Mereka inilah yang disebut sebagai Orang Kere Baru alias OKB.

Tentu beda nasib antara dua OKB itu. OKB kere ini nasibnya betul-betul mengenaskan. Sudah jatuh tertimpa tangga, laku kena ambrukan rumah.

Mereka adalah orang-orang yang menganggur karena dipecat dari pekerjaan selama pandemi, atau para pedagang kecil dan buruh bangunan yang tidak bisa berjualan dan bekerja selama pagebluk.

Menurut standar Bank Dunia, orang-orang yang berpenghasilan USD 2 (dua dolar Amerika) sehari masuk dalam kategori miskin.

Dengan kurs dolar rata-rata Rp 15 ribu maka orang-orang yang berpenghasilan Rp 900 ribu perbulan masuk kategori miskin.

Dengan uang sejumlah itu sulit dibayangkan seseorang bisa survive di kota besar.

Tapi, kenyataannya masih sangat banyak orang yang berpenghasilan di bawah itu, dan bisa bertahan di kota maupun di desa, dengan kondisi yang benar-benar minimalis.

Di kota, mereka menjadi bagian dari urban poor yang tinggal di perkampungan kumuh, di bawah kolong jembatan, dan di bantaran sungai.

Mereka hidup dari memulung barang bekas, menjadi kuli bangunan, menjadi kuli angkut di pasar, atau menjadi gepeng, gelandangan dan pengemis.

Mereka hidup tanpa listrik, tanpa air bersih, tanpa fasilitas kesehatan, dan tidak bisa menjangkau fasilitas pendidikan.

Di desa, orang-orang miskin ini adalah buruh tani dan pekerja kasar yang bekerja serabutan.

Orang-orang miskin desa masih bisa bertahan hidup karena didukung oleh kekerabatan yang masih cukup kental.

Orang-orang miskin desa ini menjadi pengangguran terselubung yang sulit terjangkau oleh statistik.

Patokan baru Bank Dunia malah memasang standar penghasilan USD 5 perhari untuk menentukan garis kemiskinan.

Dengan patokan itu, orang-orang yang berpenghasilan Rp 2,25 juta masuk dalam kategori miskin.

Angka itu adalah angka rata-rata UMR (upah minimum regional) di beberapa kota kecil di kabupaten. Kota-kota besar seperti Surabaya upah minimum sudah mendekati Rp 5 juta.

Bank Dunia membuat kategori ‘’poor, nearly poor, dan extreme poor’’ (miskin, hampir miskin, dan miskin mutlak).

Mereka yang berpengahasilan USD 5 perhari masuk dalam kategori ‘’nearly poor’’ dan sangat rentan menjadi ‘’poor’’.

Mereka yang berpenghasilan di bawah itu masuk kategori poor dan extreme poor.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *