“Ini krusial sekali karena senyawa antara negara-bangsa, tradisi keagamaan dan budaya lokal adalah satu-satunya struktur dasar yang tersedia dalam tata dunia saat ini untuk mengelola proses negosiasi global menuju peradaban yang harmonis,” kata Gus Yahya yang memberikan paparannya melalui rekaman video.

Melalui kecermatan dalam pola adaptasi terhadap globalisasi tersebut, maka tatanan dunia diyakini akan semakin membaik. Namun sebaliknya, jika negosiasi ini gagal, maka ketegangan-ketegangan baru bisa saja tak terhindarkan.

“Negara-bangsa adalah pondasi tata dunia pasca Perang Dunia Kedua yang menopang stabilitas dan keamanan global saat ini,” tandas kakak kandung  Yaqut Cholil Qoumas Menteri Agama  RI ini.

Pada kesempatan itu, Gus Yahya juga menjelaskan potensi besar yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU) dengan tradisi keagamaan lokalnya yang kokoh serta bangsa Indonesia dengan visi “Bhinneka Tunggal Ika” membangun peradaban umat manusia. Melalui tradisi keagamaan lokal dan visi bangsa itu, Gus Yahya menilai proses perwujudan konsensus menuju peradaban global yang harmonis bukanlah impian.

Acara peringatan Serangan WTC 9/11 yang digelar Regent University ini dipandu langsung oleh Michele Bachmann, Dekan di The Robertson School of Government di kampus tersebut. Pada kesempatan itu, Michele Bachmann menyampaikan kekagumannya dan memberikan apresiasi pada pidato Katib Aam PBNU Gus Yahya. Bahkan Bachman menyebutnya sebagai suara muslim terdepan dalam menghadapi ekstremisme.(ika)