Otak Sungsang Koruptor

  • Bagikan
Ilustrasi

matajatim.id-Apa yang ada di otak para koruptor ketika melakukan kejahatannya?

Apa yang ada di otak para penjahat ketika melakukan aksinya?

Pertanyaan ini sudah menjadi perdebatan lama para ahli psikologi, psikiater, maupun ahli sains otak, atau neurosains.

Beberapa hari terakhir ini viral berita mengenai pasangan suami istri Bupati Probolinggo dan suaminya yang tertangkap tangan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Puput Tantriana Sari, sang bupati, dan Hasan Aminuddin, sang suami–anggota DPR RI dari Partai Nasdem—dua-duanya mempunyai kedudukan terhormat dan tidak pernah kekurangan harta.

Tapi, toh masih melakukan korupsi juga.

Hanya beberapa bulan sebelum penangkapan Puput, KPK menangkap Bupati Nganjuk, Novi Rahman Hidayat.

Penangkapan ini juga mengejutkan, karena Novi dianggap sebagai politisi generasi baru yang masih muda, berlatar belakang keluarga kaya, dan hafal Alqur’an.

Ini hanya dua contoh saja dari banyaknya kejahatan kerah putih yang dilakukan oleh orang-orang pintar dan terhormat.

Di Makassar, mantan Gubernur Nurdin Abdullah adalah seorang profesor dan akademisi jempolan.

Ketika menjadi Bupati Bantaeng dia sangat berprestasi dan reputasinya bersih.

Tapi begitu menjadi gubernur, ternyata korupsi juga.

Gelar akademik dan otak korup ternyata tidak ada korelasinya, atau malah kuat korelasinya.

Apa yang dipikirkan oleh mantan Menteri Sosial Juliari Batubara ketika dia menerima miliaran rupiah dari dana bantuan sosial?

Apakah dia tidak mengetahui bahwa dia mencuri uang rakyat miskin yang sedang menderita.

Sekarang, ketika dia divonis 12 tahun penjara dia masih tetap tidak mengakui kejahatannya.

Apa yang ada di pikirannya?

Sebuah kisah kejahatan yang terjadi di Amerika Serikat bisa menjadi contoh bagaimana otak para pelaku kejahatan itu bekerja ketika melakukan aksinya yang sadis.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *