Wacana Jokowi 3 Periode

  • Bagikan
Jokowi 3 Periode
Presiden Jokowi

matajatim.id-PAN akhirnya bergabung dengan koalisi pemerintah. Bisa jadi ini dalam rangka melancarkan proses amandemen terbatas atas konstitusi palsu UUD 2002.

Ujung amandemen ini adalah perpanjangan jabatan presiden.

Jika ini benar, merupakan maladministrasi publik dalam skala raksasa: membuat regulasi dan tafsirnya untuk kepentingan incumbent dan oligarki pendukungnya.

Bukan untuk kepentingan publik.

Prinsip-prinsip Republik yang diamanahkan dalam Pembukaan UUD1945 terang-terangan dikhianati.

Beberapa waktu sebelumnya, telah muncul wacana Jokowi 3 Periode. Sekalipun, seperti dulu, Jokowi menampik untuk mengakui keinginannya.

Tapi ada sekelompok orang yang menamakan diri Jokpro yang mulai mempromosikan Jokowi untuk nyapres lagi sebagai Presiden pada Pemilu 2024 nanti.

Bahkan kelompok lain yang menamakan diri sebagai Joman telah menuding bahwa Jokpro adalah kumpulan para Brutus.

Publik pun dibingungkan oleh wacana yang seolah kontradiktif. Tapi sebenarnya saling mendukung.

Nugroho mengatakan bahwa what Jokowi said is at best not to be taken at face value.

Pilpres masih tiga tahun lagi.

Saat warga yang masih waras mempersoalkan presidential threshold 20%, wacana Jokowi 3 periode ini muncul sebagai konfirmasi atas agenda siluman itu.

Hambatannya cuma pasal 7 UUD2002. Perlu amandemen terbatas untuk membuka peluang bagi jabatan presiden 3 periode atau memperpanjang periode ke 2 ini.

Sebagian pendukung fanatik Jokowi bisa menjadi balas dendam pada pendukung fanatik Soeharto. Pada saat para fanatik sangat percaya diri, para demokrat yang lebih cerdas justru ragu-ragu.

Bagi true leaders, wacana ini jelas menunjukkan krisis kepemimpinan nasional. Seolah tidak ada capres lain selain Jokowi.

Krisis itu adalah tanggungjawab Jokowi sendiri yang sebagai pemimpin tertinggi justru gagal melakukan kaderisasi. Kaderisasi adalah tugas pemimpin sejati.

Artinya, sebagai pemimpin tertinggi, Jokowi telah sembrono mendaku semua kredit baginya sendiri sehingga presiden berikutnya tidak bisa selain dirinya.

Jokowi menerjang hukum besi sejarah, lupa adagium Lord Acton: power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely.

Presiden adalah jabatan very powerful. Terlalu lama menjabatnya mengundang resiko penyalahgunaan kekuasaan.

Adagium lainnya adalah bahwa jangankan di sekitar Julius Caesar ada Brutus yang berkepentingan agar Sang Kaisar tetap berkuasa sambil mengintai kesempatan untuk menikamnya dari belakang.

Apalagi di sekitar Nero yang beberapa kelas di bawah Caesar. Kali ini bukan assasination tapi sikap ABS.

Prinsip Republik yang diamanatkan Pembukaan UUD,1945 sesungguhnya adalah sebuah platform agar pergantian kekuasaan bisa terjadi sebagai peristiwa yang wajar.

Karena itu Republik dapat bertahan dalam masyarakat yang egaliter dan meritokratik.

Dalam masyarakat feodal, presiden nyaris hampir seperti raja yang boleh menjadi raja seumur hidup. Penggantinya adalah anaknya sendiri.

Kecenderungan yang dibawa oleh wacana Presiden 3 periode itu adalah kemunduran prinsip Republik. Ingat pesan Marcus Aurelius pada Maximus Sang Gladiator: apakah Roma bisa menjadi Republik kembali ?

Sejak amandemen ugal-ugalan yang melahirkan UUD 2002, sederetan maladministrasi publik makin menjadi-jadi: hukum dibuat dan ditafsirkan bukan untuk kepentingan publik, tapi untuk kepentingan elite politik.

Kali ini untuk mempertahankan kekuasaan apapun ditempuh. Padahal Republik hanya bisa tumbuh sehat oleh administrasi publik yang piawai melayani publik.

Amandemen parsial atas pasal 7 itu bukan saja maladministrasi publik, tapi bakal menjadi malapetaka bagi Republik.

Jabatan publik mana pun adalah amanah yang tidak layak diperebutkan, dipanjang-panjangkan dengan segala cara atau membangun dinasti.

Harusnya sekali dan sesingkat mungkin. Apalagi dipertahankan mati-matian. Seperti umur, harapan memperpanjang jabatan adalah doa iblis untuk diberi umur panjang.

Seringkali perpanjangan umur hanya jebakan untuk memperpanjang daftar dosa dan kesalahan belaka. (Daniel Mohammad Rosyid)

sumber: kempalan

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *