Pakaian Wanita Afghanistan

  • Bagikan
Pakaian Wanita Afghanistan
Wanita Afghanistan sekarang 30 persen pakai burqa, 30 persen niqab, 40 persen hijab.(DISWAY)

matajatim.id-Ada tiga pakaian wanita di Afghanistan: burqa, niqab, dan hijab (lihat foto).

“Ibu Anda pakai yang mana?” tanya saya kepada Abdul Wali.

“Pakai yang hijab,” jawabnya.

Berarti wajah ibunda Wali masih terlihat (seperti gambar nomor 3). “Dua adik saya juga pakai hijab,” tambahnya.

Wali adalah mahasiswa S-2 di Institut Pesantren Kiai Haji Abdul Chalim (IKHAC), asal Afghanistan.

IKHAC adalah perguruan tinggi baru yang didirikan Prof Dr KH Asep Abdul KhalimKhalim, di Pacet, di kaki Gunung Penanggungan, pelosok selatan Mojokerto, Jatim.

Prof Asep adalah putra salah seorang pendiri NU KH Abdul Khalim asal Jawa Barat.

Institut ini berada di sebelah pondok pesantren Amanatul Ummah. Yang besar secara cepat sekali. Sudah lebih 50 hektare lahan kampus dan madrasah itu. (DISWAY 4 Maret 2020: Kiai Haji Abdul Khalim).

Kini ada dua mahasiswa asal Afghanistan yang masih bertahan di situ. Beberapa mahasiswa lainnya sudah selesai S-1. Sudah kembali ke Afghanistan.

IKHAC memang memberi beasiswa kepada mahasiswa asing dari sembilan negara. Terutama dari Asia Tenggara: Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam.

Tidak hanya ibu dan adik-adik Wali yang pakai hijab. “Hampir seluruh wanita di daerah kami memakai hijab. Jarang yang pakai burqah atau niqab,” ujar Wali.

Ia berasal dari daerah Baghlan, sekitar 200 km di utara Kabul. Yakni di pegunungan utara. Dari Baghlan ke Kabul ada jalan raya yang memiliki beberapa terowongan pendek dan satu terowongan panjang — mobil perlu 15 menit berada di terowongan itu.

Ayah Wali seorang petani, menanam gandum. Ia memiliki sedan Toyota Corolla dan handphone merek Samsung.

Dulu ketika masih di Afghanistan, HP Wali juga merek Samsung. Itulah merek paling banyak dipakai di sana. “Sekarang saya ikut orang di sini. Pakai Vivo,” katanya.

Lewat HP itulah Wali tahu perkembangan terbaru di Afghanistan. Tapi Wali pasrah saja. Sambil terus berdoa agar Afghanistan baik-baik saja. “Keluarga kami tidak ada yang berpolitik,” katanya.

Keluarga Wali adalah suku Pastun warga NU. NU-nya Afghanistan. Disebut NU-A. Alirannya juga ahlussunnah wal jamaah. Juga mirip NU di sini: memegang ijma’ dan qiyas, di samping Quran dan Hadis.

Lambangnya pun mirip2 NU kita.

Tentu tidak ada tahlil di Nahdlatul Ulama Afghanistan. Tidak ada Walisongo di sana.

NU Afghanistan berdiri tahun 2010. Pendirinya Dr Gaizal Ghani Kakar, ulama yang dekat dengan tokoh-tokoh NU Indonesia. “NU-A sudah punya cabang di beberapa kota,” ujar Wali.

Wali sendiri mendapat tawaran beasiswa di IKHAC dari jalur NU-A. Waktu itu ia sudah kuliah di University of Kabul. Ia ambil jurusan teknik sipil. Sudah semeter 4. Ia ambil jurusan teknik karena Afghanistan kekurangan insinyur dan dokter.

“Saya minta saran dari para dosen dan keluarga. Mereka mendorong saya untuk menerima tawaran beasiswa itu,” ujar Wali.

Ia tidak tahu apa-apa tentang Indonesia kecuali dua hal: ibukotanya Jakarta dan merupakan negara berpenduduk Islam terbesar di dunia.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *