Profil Yahya Waloni, Penceramah yang Ditangkap Bareskrim Polri

  • Bagikan
Profil Yahya Waloni
Yahya Waloni Saat di Bareskrim Polri (Sumber : tim tvOne)

matajatim.idJAKARTAUstaz Yahya Waloni ditangkap Bareskrim Polri di kediamannya, Perumahan Permata Cluster Dragon, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada hari kamis (26/8) pukul 17.00 WIB.

Usai ditangkap ia langsung digelandang ke gedung Bareskrim Polri.

Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono, dengan mengatakan, penangkapan Yahya Waloni diduga terlibat dalam kasus penistaan agama.

Dia dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh komunitas Masyarakat Cinta Pluralisme karena ceramah yang mengatakan bahwa Bible itu palsu.

Profil Yahya Waloni

Yahya Waluni memliki nama Yahya Yopie Waloni sebelum masuk Islam. Dia lahir di Manado, Sulawesi Utara pada 30 November 1970.

Sebelum menjadi penceramah Islam, Yahya Waloni tercatat sebagai pendeta yang terdaftar di Badan Pengelola Am Sinode GKI di Tanah Papus, Wilayah VI Sorong-Kaimana.

Pada 11 Oktober 2006, ia memutuskan untuk masuk Islam dan menjadi mualaf.

Proses mualaf dituntun oleh Sekretaris Pimpinan Cabang Nadhlatul Ulama (NU) Toli-Toli Sulawesi Tengah.

Sebelum terlibat dalam kasus cerama penisataan agama, Yahya Waloni memang sudah dikenal sebagai ustaz yang frontal dan blak-blakan.

Topik ceramah kerap kali kontroversial dan membahas misionaris serta kristenisasi.

Hal itu tentu tidak lepas dari latar belakangnya yang merupakan seorang mantan pendeta.

Yahya lahir di tengah-tengah keluarga Minahasa yang taat pada agama Kristen.

Selain dikenal sebagai ustaz yang blak-blakan dan frontal, Yahya Waloni juga mendapat julukan sebagai “Ustad Pansos” (Panjat Sosial) dari Denny Siregar karena gemar mengangkat teori tentang agamanya dulu sebagai bahan ‘jualan’ untuk meningkatkan pamornya di mata umat Islam.

Setelah memeluk Islam, nama Yahya Yopi Waloni diganti menjadi Muhammad Yahya. Nama istrinya Lusiana diganti menjadi Mutmainnah.

Selain berprofesi sebagai ustaz, Yahya Waloni juga pernah menjabat sebagai anggota DPRD di salah satu kabupaten baru di Sulawesi Utara, menjadi dosen di Universitas Balikpapan (Uniba) sampai tahun 2006, dan menjadi Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004. (Edwin Fatahuddin)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *