Oh, Afghanistan…Nasibmu

  • Bagikan
Afghanistan...Nasibmu
Pengungsi Afghanistan naik bus yang membawa mereka ke pusat pemrosesan pengungsi setibanya di Bandara Internasional Dulles di Dulles, Virginia, AS, Rabu (25/8/2021). REUTERS

matajatim.id-Manusia menyemut di Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan, sepekan terakhir. Kita lihat dari sumber mana pun.

The Post menyebut, hanya 17 toilet (WC) di sana. Bandingkan, keluarga Indonesia, yang ceria, meski miskin, serumah dihuni empat orang, dengan satu toilet, masih bisa berantem keras.

Lalu, ke mana menyemutnya manusia Afghan itu ‘melarikan diri’?

Barangkali, mereka di sana jarang makan-minum, OK.

Selain terpaksa, juga supaya tidak sering-sering ‘lari’. Syedih – ngeri. Karena bisa berisiko terpeleset ‘pelarian’ manusia lain. Khususnya di gulita malam.

Reuters, Jumat (19/8/21): Presiden AS, Joe Biden menyatakan, Amerika sudah mengangkut 13.000 orang dari Bandara Kabul. Perkembangannya, Sabtu (20/8/21) Bandara Kabul bahaya, di-stop.

Pindah ke Bandara Internasional Hamad, Doha, Qatar. Puluhan ribu manusia didrop di Doha.

The Post, Minggu (22/8/21): Di Bandara Doha ada 58 toilet. Lumayan. Tentara Amerika kemarin siang berkeringat, membangun 170 toilet portable.

Disaksikan oleh ‘semut manusia’ Afghan yang baru di-drop di sana. Khawatir-ku, ‘pelarian’ pindah ke Doha yang kaya raya.

Sinetron Afghanistan, kini ditonton dunia. Di Bandara Kabul, direkam video pengoyak kalbu. Beredar ke mana-mana, termasuk dimuat resmi Tribunnews. Video bayi digendong tentara Amerika melompati pagar.

Anda lihat, pagar tembok 2,5 meter, di atasnya rangkaian kawat duri. Di satu sisi bergerombol orang Afghan, di sisi seberang tentara Amerika.

Seorang tentara telungkup di kawat duri (pastinya beralas). Ia menerima uluran seorang balita dari wanita menangis. Bayi diterima tentara. Lalu dioper, digendong tentara lainnya.

Mimik tentara itu sedih, apalagi si wanita. Melepas bayinya: “Entah ke mana kau pergi. Doa ibu selalu menyertaimu, nak…”

Sudahlah… jangan cengeng. Jangan kolokan.

Afghanistan Nasibmu
Afghan people sit as they wait to leave the Kabul airport after thousands mobbed the facility trying to flee. [Wakil Kohsar/AFP]
Data World Bank, 31 Desember 2019, populasi Afghanistan 38,04 juta jiwa. Yang melarikan diri (dalam arti sebenarnya) mungkin belasan ribu. Katakanlah 20 ribu. Belum ada data valid.

Masih jauh lebih banyak yang pilih tinggal di negaranya. “Right or wrong, this is my country. I still here… Understand?”.

Mungkin, pengungsi itu golongan parno (paranoid). Atau pekok. Mungkin pula, mereka semula antek-antek Amerika. Antek asing. Sehingga takut ditandai oleh Taliban. Siapa tahu?

Reuters, Sabtu (21/8/21): Kepala Kebijakan Keamanan Facebook, Nathaniel Gleicher, dalam tweetnya, Sabtu (21/8/21) menyatakan, Facebook menerima sangat banyak permintaan pengguna Afghanistan, agar akun mereka diamankan. Terserah, bagaimanapun caranya.

Gleicher mengatakan, perusahaannya telah meluncurkan tombol satu klik: “Lock your profile”. Sedetik kemudian akun bakal terkunci.

Gleicher di Twitter @ngleicher: “Saat profil terkunci, orang yang bukan teman tidak dapat mengunduh atau membagikan foto profil atau melihat postingan di linimasa pengguna bersangkutan.”

Itu diharapkan Gleicher, warga Afghanistan bisa meminimalisir siapa saja orang yang bisa melihat dan mengakses jejak digital mereka.

Dilanjut: “Sebab, jejak digital atau kehidupan online warga Afghanistan bisa saja dijadikan alat, jalan masuk, tindak kekerasan terhadap mereka dan keluarga.”

Kalau Facebook seperti itu, pastinya sepaket dengan Instagram (Facebook mengakuisisi Instagram, 2012 senilai USD 1 miliar). Juga WhatsApp (Facebook mengakuisisi WhatsApp, 2009, USD 19 miliar).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *