Taliban versi Junalis Asing

  • Bagikan
Taliban versi Asing
Buku Taliban karya James Fergusson

matajatim.idTaliban kerapkali digambarkan sebagai kelompok haus darah, anti pendidikan terhadap perempuan, biadab, tukang pukul, kolot, garis keras, militan, sampai dianggap teroris juga.

Namun menariknya, kebanyakan orang hanya ingin membaca yang mereka ingin baca. Ketika dalam pola pikir mereka tertancap bahwa Taliban adalah “jahat”, maka yang mereka cari adalah berita tentang “kejahatan” Taliban dan pastinya tidak mencari tentang sisi lainnya.

Salah satu buku yang paling in-depth mengenai sisi lain Taliban adalah karya James Fergusson, Taliban: The True Story of The World’s Most Feared Guerilla Fighters.

Fergusson seorang jurnalis asing yang berada di Mazar-i-Sharif ketika kota itu jatuh ke tangan Taliban.

Dalam buku itu, Fergusson menyatakan bahwa dunia Barat hanya ingin melihat apa yang mereka inginkan, padahal ia menyingkap apa yang ada di balik tabir, semisal bagaimana eksekusi yang “dilakukan” Taliban sebenarnya hanya “difasilitasi” oleh Taliban guna menerapkan hukum Qisas.

Eksekusi dilakukan oleh pihak yang dirugikan, sementara dalam kasus hukum potong tangan dilakukan oleh ahli bedah dan langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan.

Berkenaan dengan sikap Taliban terhadap pendidikan untuk perempuan, Fergusson memperlihatkan bahwa anggota kelompok itu tidak menganggap diri mereka sebagai penakluk atau penunduk perempuan, melainkan pelindung perempuan. Semua aturan yang dibuat Taliban, dalam buku tersebut, adalah untuk melindungi perempuan.

Bahkan ketika berkuasa, Mullah Omar yang merupakan pemimpin Taliban, melarang tradisi pertukaran perempuan ala Pashtun yang dikenal sebagai swara dan pembunuhan perempuan untuk kepentingan balas dendam.

Banyak juga perempuan yang sekolah di bawah kepemimpinan Taliban, seperti yang terjadi di Herat.

Fergusson menyatakan bahwa kelompok tersebut tidak memiliki keberatan yang sifatnya ideologis mengenai pendidikan terhadap perempuan, namun ia juga menyebutkan ada kebijakan yang dianggap diskriminatif seperti pelarangan guru perempuan untuk mengajar di sekolah yang mana muridnya juga berisikan anak laki-laki.

Lebih jauh ia menyatakan bahwa Taliban sebenarnya ingin membangun sekolah yang khusus perempuan. Namun gagal bukan karena alasan ideologis, tapi kurangnya sokongan finansial karena mereka juga harus melakukan pertempuran dengan Aliansi Utara.

Omar sendiri bahkan memperbolehkan pelatihan kepada perempuan di ruangan rumah sakit pusat di Kabul yang mana mereka nantinya dapat menjadi dokter, sebanyak 1.200 orang lulus dari sekolah medis itu.

Taliban menjadi waswas dengan Barat karena penggambaran jahat yang dilakukan orang asing terhadap mereka, tutur Qari Barakallah Salim yang diperbolehkan membuka sekolah khusus perempuan di masa Taliban berkuasa.

Sekolah itu memiliki siswa sebanyak 700 anak dan 62 guru serta tidak berbentuk madrasah yang hanya mengajarkan agama, melainkan kurikulumnya seperti sekolah biasa yang termasuk matematika, Bahasa Inggris, dan juga biologi.

Menurut Salim, yang dikutip dalam buku tersebut, kelompok militan itu tidak memiliki masalah dengan sekolah perempuan selama tidak terhubung dengan LSM asing.

Salim juga menambahkan bahwa Islam sendiri menyampaikan pentingnya pendidikan untuk perempuan dan Nabi Muhammad Saw menikah dengan pebisnis perempuan yang terdidik, Khadijah. (reza hikam)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *