PB PMII Minta Jokowi Mundur dari Kursi Presiden

  • Bagikan
PB PMII Minta Jokowi Mundur
Para aktivis PMII saat melakukan aksi demonstrasi

matajatim.idJAKARTA-Wakil Sekretaris Jenderal Advokasi dan Kebijakan Publik, PB PMII, Armed menyarankan Jokowi mundur dari kursi Presiden RI karena dinilai gagal dalam menangani Pandemi Covid 19 di Indonesia.

“Kami memberikan pilihan kepada Presiden Jokowi untuk berbenah atau mengundurkan diri dari kursi Presiden sebagai bentuk pertanggungjawaban atas berbagai kegagalan kebijakan beliau dalam menangani pandemi yang semakin tidak terkendali,” katanya, Kamis malam (19/8/2021) dalam rilis yang disiarkan kepada media.

Statemen Armed ternyata menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat dan aktivis mahasiswa.

Menanggapi hal itu, Muhammad Rohim sebagai Ketua PB PMII minta kepada masyarakat agar memahami statement Armed sebagai bentuk kritik yang bertujuan membangun dan dukungan kepada pemerintah.

“Ya namanya juga PMII itu kan organisasi mahasiswa, kalau memiliki beragam catatan-catatan tentang kebijakan Pemerintah, itu hal yang wajar sebagai pihak yang memiliki nalar kritis untuk perubahan tapi kami juga terus menjaga komitmen untuk membantu pemerintah dalam mengatasi berbagai persoalan bangsa khususnya pandemi Covid 19 ini,” terang Rohim, Ketua PB PMII dalam rilis tertulis kepada media Sabtu (21/8/2021).

Menurut Rohim, statemen Armed bukan untuk dipahami sebagai ajakan makar atau menuntut Presiden mundur, melainkan PB PMII siap menjadi garda terdepan untuk membantu Pemerintah dalam menangani Covid-19.

“Mestinya begini, namanya hasil diskusi juga harus ditanggapi dengan kepala dingin. Dengan statemen itu kami justru ingin sampaikan bahwa kami siap membantu pemerintah untuk gotong royong bahu membahu mengentaskan Pandemi Covid-19, yang belum ada tanda-tanda akan berakhir. Nggak ada itu ajakan untuk makar ke Bapak Presiden Jokowi,” tegasnya dalam keterangan tertulis.

Rohim menjelaskan, kondisi Indonesia saat ini bisa diambil pelajaran dalam menghadapi Pandemi Covid-19.

Menurutnya, ada 3 hikmah yang bisa diambil.

“Hikmahnya adalah pertama, PB PMII komitmen siap menjadi pembantu pemerintah untuk berjuang mengentaskan Pandemi. Buktinya kita sudah 3 kali menyelenggarakan vaksinasi, dan ikut kontribusi dalam menyalurkan bantuan sembako ke masyarakat,” jelasnya.

Kedua, PB PMII ngerti bahwa jumlah tenaga kesehatan (nakes) sedikit, dan banyak yang sudah berguguran karena Pandemi ini.

Karena itu Pemerintah perlu menyediakan beasiswa 10 ribu untuk masyarakat menengah bawah agar bisa kuliah di kedokteran dan keperawatan secara gratis.

“Ini supaya kedepan nakes kita jumlahnya banyak. Ketiga, harga test PCR yang beragam,” sambungnya.

Ketiga, PB PMII mendorong Pemerintah untuk terus mengupayakan harga test PCR terjangkau untuk semua kalangan masyarakat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *