Semangat Juang Taliban Setelah 20 tahun

  • Bagikan

matajatim.id-Setelah 20 tahun bertarung melawan pasukan pemerintah yang didukung Amerika dan pasukan koalisinya. Para pejuang Taliban akhirnya meraih kemenangan gemilang.

Tampuk kekuasaan di Afghanistan berhasil mereka rebut kembali. Presiden boneka Amerika, Ashraf Ghani, pun terbirit-birit melarikan diri ke Tajikistan.

Sejak dinihari Minggu (15/08/2021) lalu, ibu kota Afghanistan, Kabul sudah dikepung dari segala arah. Tapi pasukan Taliban belum diperintahkan untuk memasuki gerbang kota.

Mereka menunggu negosiasi selesai. Agar terjadi peralihan kekuasaan secara damai.

Meski demikian, masih banyak yang kuatir. Akan terjadi tembak menembak. Akibat aksi perlawanan dari pasukan pemerintah.

Kenyataannya, di ibukota Kabul hal itu tidak terjadi. Setelah diperintahkan memasuki gerbang kota, penduduk Kabul menyaksikan sebuah pemandangan yang berbeda.

Mereka melaporkan melihat para pejuang Taliban dengan damai memasuki beberapa pinggiran luar Kabul.

Di mana-mana, pengambilalihan kekuasaan itu tentu menegangkan. Tapi di Afghanistan kali ini prosesnya ternyata adem ayem. Tidak menyebabkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah yang banyak. Meskipun tak dapat dipungkiri ada letupan-letupan kecil di beberapa tempat.

Para pemimpin Taliban memang tidak menginginkan jatuhnya korban jiwa. Dan perlawanan dari pasukan keamanan pemerintah juga sangat tidak berarti.

Itulah sejatinya berita tentang apa yang terjadi di Afghanistan beberapa hari terakhir.

Mereka mengambil alih kekuasaan dengan damai. Tidak seperti berita-berita bombastis yang disebarkan media Barat umumnya dan media Amerika khususnya. Bahwa pasukan Taliban itu kejam. Tidak berperikemanusiaan. Main pancung, main tembak. Tidak menghormati hak-hak kaum perempuan. Dan berbagai berita negatif lainnya.

Bahkan Taliban dianggap akan melahirkan sebuah poros pemerintahan Islam radikal. Yang tidak diinginkan Barat, tentunya.

Di berbagai negara, biasanya bila terjadi suatu pengambilalihan kekuasaan dan rakyat berhasil menumbangkan suatu pemerintahan korup yang tidak disukai, maka rakyat akan menari-nari di jalan-jalan. Berpesta pora meluapkan kegembiraan. Karena pada akhirnya kebebasan telah diraih. Kemerdekaan benar-benar dirasakan jadi milik rakyat.

Tetapi yang terjadi di Afghanistan kali ini sungguh berbeda.

Para pejuang Taliban memasuki kota dengan damai. Rakyat menyaksikan kehadiran mereka satu demi satu. Dari balik tirai jendela. Bahkan tidak sedikit pula yang menyambut mereka di pinggir jalan. Mengucapkan salam. Melambaikan tangan.

Setelah menguasai sejumlah gedung pemerintah, termasuk istana Presiden, mereka berkumpul di suatu tempat. Bersama-sama mendengarkan seseorang membacakan ayat suci Alqur’an. Terutama Surah An Nashr. Ayat 1 sampai 3. Yang berbunyi: “Apabila telah datang pertolongan dari Allah dan kemenangan. Engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat”.

Para pejuang yang berpakaian seperti orang kampung dari desa-desa di pegunungan itu bertangisan. Bukan karena terlalu gembira. Tapi karena meresapi makna dari ayat-ayat yang dibaca. Bahwa kemenangan mereka adalah pertolongan dari Allah. Yang konsekuensinya mereka harus bertasbih dan memuji kebesaran Allah. Memohon ampunan atas segala dosa.

Mereka kuatir, bila tak mampu menjalankannya, tobat mereka tidak akan diterima.

Sebagian dari mereka juga muncul di taman-taman kota. Menaikkan bendera tauhid hitam putih. Yang jadi penyemangat perjuangan mereka. Dan menurunkan banyak bendera lain. Di antaranya bendera-bendera berwarna merah bertuliskan “Ya Hussein”.

Bendera milik pemerintahan Presiden Ashraf Ghani. Yang menunjukkan bahwa pemerintahan yang berkuasa sebelumnya adalah penganut Syi’ah Nusyairiyah. Yang ajarannya sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam.

AMERIKA SUDAH LETIH

Kedigdayaan pasukan Amerika ternyata hanya tampak di dalam film-film action yang mereka buat. Tidak nyata di medan-medan tempur yang sesungguhnya.

Meskipun tidak sedikit sineas mereka memperlihatkan kekaguman terhadap pasukan pejuang lawan, namun kecanggihan taktik dan strategi perang dan berbagai peralatan tempur yang supra modern telah digambarkan sebegitu rupa.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *