Malala; Gadis Pakistan yang Menentang Taliban

  • Bagikan
Malala Menentang Taliban
Malala Yousafzai menerima Hadiah Nobel pada usia 17 tahun.

matajatim.id-Seorang gadis muda bernama Malala Yousafzai menentang Taliban di Pakistan. Dia menuntut agar para wanita diizinkan untuk menerima pendidikan.

Pada Oktober 2012, ketika Malala berusia 15 tahun dalam perjalanan pulang sekolah di bus, seorang pria bersenjata bertopeng naik ke dalam bus dan bertanya Malala Yousafzai.

Pria misterius itu menembak ke sisi kiri kepala Malala, kemudian peluru meluncur ke lehernya. Dua gadis lainnya juga ikut terluka dalam serangan itu.

Malala dalam kondisi kritis. Dia diterbangkan ke rumah sakit militer di Peshawar. Sebagian tengkoraknya diangkat untuk mengobati otaknya yang bengkak.

Untuk menerima perawatan lebih lanjut, dia dipindahkan ke Birmingham, Inggris. Meskipun Malala membutuhkan beberapa operasi pada saraf wajah, dia tidak mengalami kerusakan otak yang parah.

Pada Maret 2013, Malala tinggal di Birmingham, Inggris dan diterima kuliah di jurusan sejarah, filsafat, dan politik Universitas Oxford. Jurusan bergengsi di universitas tertua dunia itu.

Di fakultas itu pula almarhumah Benazir Bhuto berkuliah sebelum kemudian menjadi pemimpin Pakistan.

Malala Yousafzai adalah seorang aktivis pendidikan berasal dari Pakistan. Dia menjadi orang termuda yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian saat usianya baru mencapai 17 tahun.

Sembilan bulan setelah ditembak oleh Taliban, Malala memberikan pidato di PBB. Dia menyoroti pentingnya pendidikan dan hak-hak perempuan serta mendesak para pemimpin dunia untuk mengubah kebijakan mereka.

Pada Oktober 2013, Parlemen Eropa menganugerahi Malala penghargaan ‘’Sakharov untuk Kebebasan Berpikir’’ sebagai pengakuan atas karya dan keberaniannya.

Pada 2013 itu pula, Malala mendapatkan kesempatan untuk berpidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan memukau para pemimpin dunia.

Malala lalu menerbitkan kisahnya dalam buku pertamanya berjudul ‘’I Am Malala: The Girl Who Stood Up for Education and Was Shot by the Taliban’’ (2013).

Buku itu menjadi best seller dunia, diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan.

Dalam buku itu Malala mengatakan, dirinya lebih suka dikenang sebagai seorang anak perempuan yang memperjuangkan kesamaan hak pendidikan terhadap anak perempuan di seluruh dunia, daripada dikenang sebagai seorang anak perempuan yang pernah ditembak Taliban.

Malala lahir pada tanggal 12 Juli 1997, di Mingora, Pakistan, yang terletak di sebuah lembah bernama Lembah Swat.

Selama beberapa tahun pertama hidup Malala, kampung halaman keluarga Yousafzai menjadi tempat wisata populer yang terkenal dengan festival musim panasnya.

Daerah itu mulai berubah ketika Taliban masuk.

Malala bersekolah di sekolah yang didirikan ayahnya, Ziauddin Yousafzai.

Setelah Taliban mulai menyerang sekolah perempuan di kampung halamannya, Malala berpidato di Peshawar, Pakistan, pada September 2008.

Judul pidato yang disampaikan adalah “Berani-beraninya Taliban mengambil hak dasar saya untuk menerima pendidikan.”

Pada awal 2009, dalam usia 11 tahun, Malala mulai menulis blog di BBC tentang hidup di bawah Taliban yang membatasi haknya untuk memperoleh pendidikan.

Malala menggunakan nama samaran Gul Makai. Tapi identitas asli Malala akhirnya ketahuan tahun itu juga.

Malala terus berbicara tentang haknya, dan hak semua wanita, atas pendidikan.

Kegigihannya menghasilkan nominasi untuk Penghargaan Perdamaian Anak Internasional 2011. Pada tahun yang sama, dia dianugerahi Penghargaan Perdamaian Pemuda Nasional Pakistan.

Malala dan keluarganya mengetahui bahwa Taliban telah mengeluarkan ancaman kematian terhadapnya. Kendati demikian, Malala lebih takut akan keselamatan ayahnya, yang merupakan aktivis anti Taliban.

Pada awalnya, dia tidak benar-benar memikirkan bahwa Taliban akan membahayakan seorang anak. Namun terbukti Malala tetap mendapatkan ancaman dan percobaan pembunuhan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *