Kisah Sukses Pegiat UMKM Dengan Omzet Puluhan Juta saat Pandemi Covid

  • Bagikan

matajatim.idSURABAYA– Bertahan usaha saat menghadapi pandemi Covid-19 tidaklah mudah. Apalagi bisa meraih omzet puluhan juta.

Tapi, bagi pegiat UMKM di Surabaya dan Tulungagung bisa merengkuh omzet Rp 25-Rp 30 juta sebulan ketika pandemi covid melanda.

Itu terungkap saat CEO Markaz Desain Hendrik Bayu Admiko dan Petani Millenial dan Pelaku Usaha, Aang Cahyo Saputro saat berdiskusi pada acara ‘Kamisan’ yang digelar DPD Partai Gerindra Jawa Timur, Kamis (5/8/2021).

Diskusi virtual ‘Kamisan’ dengan tema ‘Geliat UMKM di Tengah Pandemi’ tayang secara live di kanal YouTube Gerindra Jawa Timur.

Diskusi dipimpin Wakil Sekretaris Gerindra Jatim, Najih Farhoq mendatangkan pegiat UMKM yang mampu bertahan di tengah Pandemi Covid-19 dan Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur Abdul Halim.

CEO Markaz Desain Hendrik Bayu Admiko membocorkan beberapa strategi pemasaran produk yang dilakukan pelaku UMKM di tengah Pandemi Covid-19.

Salah satu terobosan yang dilakukan Hendrik kepada binaan UMKM-nya adalah memodifikasi model produk lalu mengkreasi model pemasaran agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas.

“Kita benahi strategi pemasarannya, entah itu kolaborasi, modifikasi ataupun pemasaran,” terang Hendrik.

Hendrik mencontohkan, salah satu UMKM binaannya yang sukses bertahan dengan memodifikasi jajanan basah menjadi kering sehingga lebih tahan lama.

Pegiat UMKM saat Pandemi Covid
CEO Markaz Desain Hendrik Bayu Admiko dan Petani Millenial dan Pelaku Usaha, Aang Cahyo Saputro saat berdiskusi pada acara ‘Kamisan’ yang digelar DPD Partai Gerindra Jawa Timur, Kamis (5/8/2021).

“Salah satu contohnya itu ada penjual Brownies yang biasanya dikonsumsi sebagai oleh-oleh atau apa, nah ini kita modifikasi jadi bisa dikirim ke seluruh Indonesia maka muncullah snack brownies jadi prosesioningnya diubah,” ucap Hendrik.

Setelah sukses model produk, berpikir bagaimana market yang dituju. Apakah pasar yang dituju secara umum apa pasar khusus, seperti kaum milenial.

“Yang terakhir berpikir branding desain untuk mengangkat harga dan orang lain bangga untuk membelinya meskipun browniesnya itu UMKM atau rumahan,” papar Hendrik.

Aang Cahyo Saputro yang sukses bertani menggunakan metode Hedroponik di Kabupaten Tulungagung juga bercerita kiat-kiat suksesnya.

Pria yang telah sukses pada bisnis sayur hidroponik itu memulai bisnisnya di tengah Pandemi Covid-19. Bahkan bisnis yang ia rintis baru dua tahun ini telah memiliki omzet Rp 25 hingga 30 juta dalam satu bulan. (hartono)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *