Halo…Puan, Muhaimin, Airlangga dan AHY; Apa Gak Malu Pamer Gambar saat Pandemi?

  • Bagikan
Pamer Gambar saat Pandemi
Abdillah Toha menyentil para politisi yang dinilai pamer gambar saat rakyat menghadapi pandemi covid-19 di twettnya. (matajatim)

matajatim.idJAKARTA-Para politisi yang pamer gambar ukuran besar saat PPKM pandemi covid-19 kena sentil oleh pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Abdillah Toha.

“Halo Puan, Erlangga, Muhaimin, AHY, apa tidak risih dan malu memajang gambar diri besar2 di sekujur Indonesia bersaing utk pilpres yang masih 3 tahun lagi,” katanya melalui akun Twitter pribadi @AT_AbdillahToha Kamis, 5 Agustus 2021.

Seperti diketahui, sejumlah baliho hingga papan iklan atau billboard bergambar para politisi mulai terpampang di sejumlah sudut jalanan di berbagai wilayah di Indonesia.

Terlihat gambar berbagai ukuran besar dilakukan Puan Maharani, Muhaimin Iskandar, Airlangga Hartarto hingga Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terpampang dalam baliho-baliho dan billboard untuk Pilpres 2024.

Abdillah Toha menyayangkan tindakan para politisi karena dilakukan di tengah rakyat yang kesusahan menghadapi pandemi Covid-19.

“Ketika rakyat sedang bergulat atasi pandemi dan kehidupan sehari2,” tuturnya.

Mantan Anggota DPR RI ini, menyarankan agar uang para politisi untuk menebar baliho-baliho besar bisa disalurkan untuk kepentingan penanganan covid. Dari pada dihabiskan untuk memasang baliho.

Tangkapan layar cuitan pendiri PAN Abdillah Toha sindir baliho bos Parpol di masa pandemi. (Twitter)

“Kenapa tak gunakan uang baliho itu utk bantu rakyat saja?” pungkasnya.

Hal serupa juga disampaikan Koordinator Nasional Sekretaris Nasional (Seknas) Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Alwan Ola Riantoby menilai, memasang baliho untuk mendongkrak popularitas tokoh partai politik saat pandemi Covid-19 tidaklah elok. Pasalnya, masyarakat saat ini tengah berjuang akibat dampak dari virus tersebut.

Secara etika politik, para politisi kita yang mestinya menjadi negarawan, penopang kebijakan, dan kepanjangan tangan dari rakyat, saya kira tidak elok kalau kemudian masyarakat sedang menderita dan berjibaku, tetapi orang sedang berlomba-lomba merebut kekuasaan,” ujar Alwan dalam sebuah diskusi daring, Senin (2/8) seperti dikutip republika.

Menurutnya, apa tujuan dan manfaat dari kekuasaan jika masyarakat yang memilihnya justru tak merasakan hal tersebut. Karena itulah, ia mengkritik sikap partai politik yang justru “berkampanye” untuk kepentingannya di pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

“Kira-kira perebutan kekuasaan itu untuk siapa? Masyarakat ini sekarang sedang berdampak. Lalu apakah kekuasaan itu direbut untuk masyarakat ini atau masyarakat yang mana. Jadi secara etika ini tidak etis menyebar baliho-baliho di tengah masyarakat yang mengalami pandemi,” terang Alwan.

Para elite politik yang terpampang di baliho, kata Alwan, adalah sosok-sosok penting yang memegang kebijakan dalam penanganan pandemi Covid-19 saat ini. Ia meminta, agar mereka tak tebar pesona untuk kepentingan elektabilitasnya semata.

“Saya kira ini menjadi satu ujian dalam menjaga kewarasan berdemokrasi kita. Karena kita sedang hidup di negara yang menuntut kita untuk hidup sehat, tetapi sistem negara dan politik kita sedang tidak sehat,” ujarnya.

Di samping itu, baliho dinilainya hanya sebatas menjadi alat untuk mengenalkan sosoknya kepada para pemilih. Namun jika tak diikuti oleh kinerja yang baik, akan menjadi hal sulit untuk menggaet pemilih kritis yang disebutnya ada sekira 60 persen.

“Popularitas itu tidak membekas di pemilih kritis, karena saat ini kita membutuhkan satu kerja nyata. Jadi hanya sebatas memasang baliho, tapi tidak ada kerja yang nyata, saya kira masyarakat kita sudah sangat kritis untuk menentukan pilihan-pilihan,” pungkas Alwan. (**)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *