Petani Garam Mulai Panen, Berharap Presiden Jokowi Tak Obral Kuota Impor Garam

  • Bagikan
Berharap Presiden Jokowi Tak Obral Kuota Impor Garam
Petani Garam Desa Karanganyar, Kalianget Sumenep ditemani putranya saat mengumpulkan butiran garam di lahan tambaknya, Rabu. (matajatim.wahid)

matajatim.idSUMENEP-Petani Garam di Sumenep, Madura mulai memanen hasil garam di area tambak garamnya.

Itu terlihat di lahan garam di Desa Karanganyar, Desa Pinggirpapas, Kalianget, Sumenep, Madura Rabu (28/7/2021).

Mereka mengaku musim panen garam saat ini mundur akibat anomali cuaca.

“Mestinya panen sejak Mei. Karena cuaca tak bersahabat, baru bulan Juli bisa panen,” ucap Joni, Pemuda Garam asal Desa Karanganyar, Kalianget kepada Mata Jatim.

Meski panen lambat dari rencana. Joni mewakili petani garam lainnya berharap kepada Presiden Jokowi agar ikut memikirkan nasib petani garam di saat pandemi Covid-19.

“Semoga Pak Jokowi memikirkan nasib petani garam. Harga jual garam bisa bikin keluarga petani garam tersenyum,” harap Joni.

Berharap Presiden Jokowi Tak Obral Kuota Impor Garam

Kata Joni, harga garam saat ini Rp 750 ribu per ton.

Dengan harga jual itu, masih belum dipotong ongkos angkut dan biaya karung.

“Kalau harga Rp 750 ribu per ton, bersih jual sekitar Rp 500 ribu per ton,” terangnya.

“Harga jual bersih Rp 500 ribu itu masih belum bikin petani tersenyum. Sebab, para petani garam masih membagi hasil panennya kepada pemilik tambak garam. Ditambah biaya modal sebelum panen,” menambahkan.

Karena itu, Joni minta kepada Presiden Jokowi agar tak banyak mengobral kuota impor garam biar tak mencekik nasib petani garam.

“Kalau kuota garam tak dikontrol oleh Pak Presiden. Otomatis berimbas kepada harga jual garam rakyat,” sambungnya.

Joni merinci. Jika masa panen garam berlangsung normal selama 5 bulan. Prediksi pendapatan petani garam per hektare mencapai 100 ton.

Berharap Presiden Jokowi Tak Obral Kuota Impor Garam
Petani garam Desa Karanganyar mulai mengumpulkan hasil panen garamnya.

“Bayangkan jika harga jual Rp 500 ribu per ton. Kali 100 ton kan mencapai Rp 50 juta. Pendapatan itu dipotong biaya lain-lain sebesar Rp 15 juta. Sisa Rp 35 juta dibagi tiga dengan pemilik. Praktis, petani garam hanya menikmati Rp 12 juta. Kalau dibagi setahun kan pendapatan petani hanya Rp 1 juta per bulan,” beber Joni.

Joni bersama pemuda dan petani garam lainnya akan terus menyuarakan keberpihakan kepada petani garam dengan harapan harga jual garam bisa bikin keluarga petani garam tersenyum.

Wahid, Mata Jatim

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *