Dhimam Abror: Indonesia Sempoyongan Ditimpa Covid-19

  • Bagikan
Indonesia Sempoyongan Ditimpa Covid-19
Dhimam Abror Djuraid dengan latar laporan utama The Wall Street Journal, “Indonesia Sempoyongan Tertimpa Covid”. (matajatim.id)

matajatim.idDhimam Abror Djuraid mengulas kondisi situasi pandemi covid-19 yang dialami sejumlah warga negara Indonesia beberapa hari terakhir.

Dikutip dari situs kempalan, wartawan senior di Surabaya ini menurunkan laporan sejumlah media asing dan media dalam negeri terkait kondisi Indonesia yang lagi Sempoyongan Ditimpa Covid-19.

Catatan Dhimam Abror berawal dari kisah sosok Bilal si penarik becak di Yogyakarta. Berikut catatan mantan Pemred Jawa Pos dan Harian Pagi Surya ini:

BILAL

Presiden Joko Widodo mungkin tidak tahu beda antara bilal dan muazin. Karena itu, dia agak bingung ketika menyebutkan ada muazin dalam shalat Idul Adha yang diikutinya di Istana Bogor.

Netizen langsung menyalak menyambar unggahan Presiden Jokowi itu. Tapi, Menteri Agama Yaqut Choliel Qoumas langsung tampil pasang badan. Ia menyerang pengritik Jokowi, dan menegaskan tidak ada yang salah dengan pernyataan Jokowi itu. Pada dasarnya, kata Menteri Yaqut, muazin dan bilal fungsinya sama.

Tidak cukup sampai disitu. Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga merasa perlu membela Presiden. Maka, keluarlah pernyataan fatwa dari MUI, yang menyatakan bahwa bilal dan muazin pada dasarnya punya fungsi yang sama. Tentu saja pernyataan MUI ini dilengkapi dengan dalil-dali yang canggih.

Bilal Yogyakarta ini adalah seorang kakek penarik becak berusia 84 tahun. Iya benar. Penarik becak berusia 84 tahun, yang kedapatan meninggal dunia di atas becaknya, pekan lalu (19/7/2021).

Bilal tidak mempunyai keluarga yang mengurus.

Bilal sudah 50 tahun menjadi penarik becak, dan berpangkal di daerah Kemantren dekat tembok Keraton Yogyakarta.

Becak tua berwarna merah itu sekaligus berfungsi sebagai rumah tempat tinggal baginya.

Setiap hari ia menarik becak melayani warga sekitar, dan setiap malam Bilal tidur meringkuk di atas becaknya.

Beberapa hari Bilal tidak terlihat menggenjot becaknya. Ia hanya memarkir becak itu di ujung gang. Seseorang yang curiga mencoba mendekati becak Hilal.

Tidak ada reaksi. Ketika tubuh tuanya dipegang ternyata ia mengatupkan mata tidak bernyawa lagi. Jasadnya sudah dingin.

Beberapa hari ia mengeluh sakit. Tentu Bilal tidak bisa ke rumah sakit atau ke apotek membeli obat. Ia hanya beristirah di atas becaknya.

Tubuh rentanya tidak mampu lagi menahan penderitaan. Dia mengembuskan nafas di atas becak, yang setia menemaninya selama setengah abad.

Bahkan kerabatnya pun tidak sesetia becaknya. Ia meninggal dalam kesendirian.

Jasad Bilal dibawa ke rumah sakit.  Persoalan baru muncul lagi. Tidak ada biaya yang dipakai untuk membayar ongkos ‘’Bedah Bumi’’ sampai Rp 5 juta.

Jenazahnya telantar beberapa hari.

Kelurahan maupun kecamatan tidak bisa membantu biaya pemakaman Bilal, karena ternyata Bilal tidak termasuk dalam kategori orang telantar. Alasannya, karena Bilal punya KTP (kartu tanda keluarga) dan KSK (kartu susunan keluarga).

Karena itu, pemerintah tidak bisa mengurus jenazahnya dan menyerahkan pemulasaraannya kepada keluarga.

Selama 50 tahun hidup terlunta-lunta, Bilal ternyata tidak masuk dalam kategori orang telantar. Hanya setelah kasusnya muncul di media, dan ada intervensi politik dari DPRD, jenazah Bilal kemudian bisa dipulasara dan dimakamkan.

Hasil tes usap menunjukkan Bilal positif Covid 19.

Bilal bukan satu-satunya kisah pilu korban pandemi yang meninggal dalam sepi.

Di sebuah desa di Kutai Barat, Kalimantan Timur, seorang bocah yang disebut bernama Vino, 10 tahun, menjadi yatim piatu dalam tempo dua hari, setelah ibu dan ayahnya meninggal dunia karena Covid-19.

Ayah Vino, seorang pedagang bakso keliling, suatu ketika jatuh sakit karena kehujanan setelah berkeliling menjajakan dagangannya.

Ayah Vino punya riwayat sakit tifus, dan mengira penyakitnya itu kambuh. Tapi, kemudian diketahui bahwa Ayah Vino terjangkit Covid 19. Ibu Vino tak lama kemudian juga ikut terjangkit.

Vino kecil pun akhirnya juga terjangkit.

Ketiganya melakukan isolasi mandiri. Beberapa hari bertahan kedua orangtua Vino akhirnya meninggal.

Vino pun menjadi yatim piatu dan menjalani isolasi mandiri dengan diawasi tetangga dan kerabatnya.

Di Jawa Barat, seorang ibu berusia 70 tahun memeluk jenazah anaknya yang sudah tiga hari meninggal.

Aroma tak sedap dari kandang sapi, tempat ibu tua itu tinggal, membuat warga curiga. Setelah dilongok ternyata sang ibu saling berangkulan dengan anaknya, yang berusia 56 tahun, yang ditemukan dalam kondisi sudah meninggal. Ibu dan anak itu saling berpelukan.

Sang ibu dikira sudah meninggal karena tidak bergerak ketika ditemukan. Tapi, ketika hendak dipermandikan, ternyata nafasnya masih ada.

Sang ibu yang kelaparan berhari-hari tidak mampu bergerak sama sekali, dan terus memeluk sang anak yang jasadnya mulai membusuk.

Pagebluk Covid 19 membawa korban paling parah di kalangan orang-orang miskin yang tidak bisa menjangkau layanan kesehatan.

Potret kesedihan itu ditampilkan di media internasional dan menjadi konsumsi global.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *