Petani Garam Sumenep Gelar Ritual Upacara Nyadar saat PPKM Darurat

  • Bagikan
Ritual Upacara Nyadar saat PPKM Darurat
Lokasi makam Syekh Anggasuto yang berlokasi di Dusun Kolla, Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi sebagai pusat ritual upacara nyadar yang biasa dilakukan para petani garam Sumenep. Sabtu pagi sebagai hari kedua ritual upacara nyadar di lokasi itu tampak sepi karena kegiatan ritual dibatasi saat PPKM Darurat. (matajatim.id.bahri)

matajatim.idSUMENEP -Bagi petani garam di Sumenep, Madura. Ungkapan syukur atas rezeki yang diterima dari Allah Swt dituangkan dalam bentuk ritual upacara nyadar.

Ritual upacara nyadar ini berlangsung ratusan tahun lalu dan tetap lestari hingga kini.

Saat pandemi Covid-19 dan PPKM Darurat. Ritual upacara nyadar tetap digelar meski tak seramai waktu normal di lain pandemi covid-19.

Jumat sore, 23 Juli 2021. Ritual upacara nyadar itu hanya dilakukan oleh tetuah petani garam untuk melakukan ritual di makam sesepuh petani garam, yaitu Syekh Anggasuto. Lalu dilanjut dengan bagi-bagi makanan dari upacara nyadar.

Pemuda Karanganyar, Joni Suharjono saat dihubungi Mata Jatim, mengatakan, kegiatan ritual upacara nyadar tetap diadakan hanya berlaku pada pemuka adat dan orang-orang yang punya peran di acara ritual upacara nyadar.

“Ritual upacara nyadar tetap dilakukan. Hanya tanpa penjual dan pengunjung. Tetuah itu diberi kartu pengenal
dari satgas covid dengan berkoordinasi dengan kepala desa setempat,” ucap Joni saat dihubungi Mata Jatim, Jumat malam.

Jika pada waktu normal. Petani garam itu berasal dari Desa Pinggir Papas, Desa Karanganyar, Kecamatan Kalianget, dan juga Desa Kebundadap Kecamatan Saronggi ramai-ramai mendatangi lokasi ritual upacara nyadar.

Di lokasi itu banyak pedagang dadakan karena banyak pengunjung yang datang untuk meramaikan ritual upacara nyadar.

Ritual Upacara Nyadar saat PPKM Darurat
Para petugas tampak menjaga lokasi ritual upacara nyadar di Kebundadap Barat, Saronggi, Jumat sore sebagai hari pertama gelaran ritual upacara nyadar agar tak dibanjiri para pengunjung. (matajatim.id)

Jumat 23 Juli 2021 itu, dua tahun ritual upacara nyadar tanpa ramai-ramai karena pandemi covid-19. Satgas Covid-19 melarang pagelaran yang mengundang banyak orang berkerumun.

Mathor (85), juru kunci makam Syekah Anggasuto alias Bhuju’ Gubeng saat ditemui Mata Jatim pada hari Sabtu menyebut, selama dua tahun ritual upacara nyadar digelar tanpa ramai-ramai. “Sejak ada corona,” ucap Mathor.

Menurut Mathor, seandainya normal. Ritual pacara nyadar begitu semarak karena banyak warga yang berpartisipasi menyemarakkan acara tersebut.

Namun, pada Jumar sore itu. Banyak warga ketakutan datang ke lokasi ritual upacara nyadar karena ketakutan adanya isu akan diswab. Banyak masyarakat mengurungkan menggelar ritual upacara nyadar secara bersama-sama.

“Masyarakat ketakutan, kataanya akan dicungkil hidungnya (swab antigen,red),” ujar Mathor.

Kata Mathor, kegiatan ritual upacara nyadar semula hanya dirayakan oleh keluarga petani garam.

Namun, dalam perkembangannya. Ritual upacara nyadar banyak diikuti oleh semua lapisan masyarakat.

Saat ini, masyarakat mengartikan ritual upacara nyadar sebagai bentuk tasyakkuran atas usaha yang mereka jalani. Baik petani, pedagang pengusaha atau semacamnya.

Jika normal. Para petani garam Sumenep ramai-ramai berziarah dan melantunkan doa bersama-sama di makam Syekh Anggasuto yang berlokasi di di Dusun Kolla, Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi. (fotodokemen)

“Sudah semuanya bisa ikut. Kan nyadar ini seperti perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw atau tasyakkuran lainnya jadi semua masyarakat bisa ikut,” tutur Mathor.

Nyadar berawal dari kata arab Nadzar yang bermakna niat yang wajib diwujudkan.

Menurut informasi yang dihimpun Mata Jatim, ritual upacara nyadar itu berawal dari sikap nadzar masyarakt Desa Pinggirpapas, kala itu- untuk bisa bertahan hidup di lingkungan barunya.

Masyarakat hidup di tanah gersang tanpa pepohonan. Sedangkan tanah yang ditempati sulit ditanami tanaman.

Saat itu. Ada orang yang diyakini ‘alim bernama Syekh Anggasuto. Melalui perantara Syekh Anggasuto. Masyarakat Desa Pinggirpapas bisa mengais rezeki melalui bertani garam.

Syekh Anggasuto minta petunjuk Allah Swt. Petunjuk itu diperintah untuk berjalan menuju pesisir pantai. Sampai di pesisir pantai, Syekh Anggasuto melihat bekas tapak kakinya berisi benda putih.

Syekh Anggasuto berpikir, apa benda putih tersebut? Akhir kata, benda putih diketahui bernama Bhuja (bahasa madura), dalam bahasa Indonesia disebut Garam.

Dari itu, masyarakat Desa Pinggirpapar meyakini Syekah Anggasuto sebagai penemu garam pertama.

Dalam perkembangannya, masyarakat Desa Pinggir Papas atas bimbingan Syekh Anggasuto memetakan lahan untuk dicetak garam.

Al-hasil, masyarakat setempat bisa bertahan hidup dengan menemukan mata pencaharian sebagai penyambung hidup dengan bertani garam.

Setelah sukses bertani garam. Syekh Anggasuto menyarankan kepada para petani garam agar tak lupa mengucapkan raya syukur kepada Allah swt, sang pemberi rejeki.

Para petani garam di Desa Pinggirpapas dan Karanganyar, Kecamatan Kalianget bisa bertani garam dengan hasil kualitas garam yang bagus dan melimpah.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *