Gus Dur dan Celana Kolor; Jabatan Hanyalah Busana

  • Bagikan
Gus Dur dan Celana Kolor
Adegan saat Gus Dur keluar dari istana merdeka hanya dengan menggunakan celana kolor pendek di akhir masa jabatannya pada pertengahan Juli 200. (FOTO:reuters)

matajatim.id-20 Tahun lalu. Tepatnya, 23 Juli 2001. Belum genap dua tahun menjabat Presiden RI ke-4. Dus Dur dikudeta secara konstitusional oleh MPR.

Gus Dur lengser dari kursi presiden yang hanya diduduki persis 20 bulan. MPR menarik mandat yang diberikan kepada Gus Dur sebagai presiden. Kemudian menetapkan Megawati Soekarnoputri sebagai presiden menggantikan Gus Dur.

Saat-saat itu, Gus Dur keluar dari istana merdeka yang menggunakan celana kolor.

Supri, fotografer kantor berita Reuters kala itu tak menduga. Posisi kamera miliknya yang horizontal langsung ia ubah menjadi vertikal demi bisa mendapatkan frame kaki presiden yang memakai celana pendek.

Foto jepretan Supri itu menjadi salah satu foto paling bersejarah dalam dinamika perpolitikan Indonesia.

Bertahun-tahun setelah Gus Dur wafat. Kisah akhir masa jabatan Gus Dur akhirnya menjadi drama kolosal tersendiri yang tersaji dalam berbagai kisah dan berita yang menghebohkan.

Suatu waktu. Dalam wawancara di Kick Andy, Gus Dur pernah mengatakan bahwa kelak, kisah tentang pelengserannya akan terbuka dan tersibak oleh sejarah di masa depan.

“Besok-besok akan terbukti oleh bangsa ini sendiri,” begitu kata Gus Dur saat wawancara di acara Kick Andy.

23 Juli 2021. Dunia medsos heboh dengan foto Gus Dur yang hanya bercelana kolor melambaikan tangan saat keluar dari istana presiden.

Arif Afandi memberi catatan tentang Presiden Gus Dur yang memakai celana kolor, memberi pesan bahwa jabatan adalah busana.

Berikut tulisan Arif Afandi yang dikutip dari situs ngopibareng.id

Celana kolor Gus Dur kembali viral. Saat banyak orang mengenang detik-detik lengsernya Presiden RI keempat itu dari istana di Bulan Juli, 20 tahun lalu. Setelah dua tahun menjadi orang pertama di negeri ini.

Foto Gus Dur yang sedang melambaikan tangan dari emper istana hanya dengan kaos dan katok kolor memenuhi timeline medsos.

Foto peristiwa yang tak mungkin terulang.

Foto itu tidak hanya bersejarah. Tapi penuh makna. Menunjukkan kesejatian Gus Dur sekaligus memberi pelajaran terhadap bangsa ini.

Bahwa jabatan hanyalah busana.

Juga memberi pelajaran bahwa politik bukan hanya soal legitimasi. Tapi juga soal kerajinan (crafting) mengelola berbagai sumber kekuatan dan berbagai kepentingan.

Dalam hal legitimasi, tidak ada presiden RI yang bisa melampaui cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari ini. Tiga sumber legitimasi sekaligus melekat dalam dirinya.

Apa itu?

Legitimasi genetik, legitimasi keilmuan, dan legitimasi politik. Ia sudah punya modal bawaan yang sangat cukup untuk memimpin negeri ini.

Namun ketiganya ternyata belum cukup bagi Gus Dur.

Modal legitimasi genetik Gus Dur sangat kuat. Ia menjadi keturunan dua orang pahlawan nasional. Kakeknya KH Hasyim Asy’ari dan ayahnya KH Wahid Hasyim. Gus Dur adalah keturunan pejuang yang punya andil besar terhadap kemerdekaan bangsa ini.

Legitimasi keilmuan juga tidak kurang kuat. Ia dikenal sebagai salah satu cendikiawan Muslim yang mewarnai wacana pemikiran di negeri ini. Pemikirannya menembus ke berbagai bidang.

Meski tak punya gelar akademik dan tak pernah meluluskan sekolah formalnya, Gus Dur sangat dihormati di kalangan ilmuwan.

Pemikiran-pemikirannya mewarnai wacana keilmuwan di dalam negeri maupun di luar negeri.

Tulisannya merambah berbagai jurnal dan media massa. Mulai dari soal kebudayaan, ilmu pengetahuan, keagamaan, sampai dengan sepak bola. Keluasan pengetahuannya tercermin dalam berbagai karya tulisnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *