Prof Hj Huzaemah Tahido Yanggo, Salah Satu 900 Ulama Indonesia Meninggal Covid-19

  • Bagikan
Prof Hj Huzaemah Tahido Yanggo Meninggal Covid-19
Prof Dr Hj Huzaemah Tahido Yanggo

matajatim.idInnalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Prof Hj Huzaemah Tahido Yanggo menghadap ke Rahmatullah, Jumat 23 Juli 2021 pukul 06.10 WIB di RSUD Banten.

Almarhumah tercatat sebagai ulama perempuan pertama di Indonesia yang menggeluti perbandingan mazhab fikh yang berhasil meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir tahun 1981..

Prof Hj Huzaemah juga menjabat sebagai Rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta, guru besar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta atau UIN Jakarta pada jurusan Magister Pengkajian Islam.

Berbagai jabatan beliau emban, seperti anggota Komisi Fatwa MUI sejak tahun 1987, Dewan Syariah Nasional MUI sejak tahun 2000, dewan pakar Muslimat NU, dan A’wan PBNU.

Dahlan Iskan menyebut, almarhumah salah satu dari 900 ulama Indonesia yang mendapat giliran meninggal karena Covid-19.

Prof Huzaemah lahir di Donggala, Sulteng 74 tahun lalu (lahir 30 Desember 1946 di Palu).

Dia masuk sekolah di Al-Khairat, Palu. Sejak SD, sampai perguruan tinggi. Juga mengajar di Al-Khairat –sehingga sehari-hari dipanggil Ustadzah. Kemudian melanjutkan program magister dan doktoral di Al-Azhar, Kairo.

Prof Hj Huzaemah Tahido Yanggo. (Foto: Istimewa)

Prof Huzaemah Meninggal di RSUD Banten

“Malam itu kami sudah keliling 11 rumah sakit di Jakarta. Semua penuh,” ujar Dr Syarif Hidayatullah, satu-satunya putra almarhum seperti dikutip disway.id.

Dr Syarif bercerita, ketika dirinya mencari rumah sakit yang lain lagi, kadar oksigen Prof Huzaemah terus menurun. Menjadi 80. Turun lagi ke 70. Turun terus ke 60 dan berlanjut ke 50-an.

Syarif belum juga mendapat rumah sakit. Malam semakin larut. Penanggalan sudah pindah ke 14 Juli 2021. Kadar oksigen Prof Huzaemah turun lagi tinggal 40-an.

Diputuskanlah agar beliau dibawa ke mana pun. Asal mendapatkan rumah sakit. Yang masih ada jauh sekali: di Banten.

Prof Huzaemah dilarikan ke Banten. Tidak menunggu Syarif pulang dari keliling Jakarta. Khawatir keburu kian buruk.

Cari ambulans pun tidak dapat. Yang ada mobil Kijang Innova lama.

Syarif minta tolong temannya mengemudikan mobil itu. Sang ibu dinaikkan ke kursi tengah. Berbaring di situ. Dipangku keponakan.

Mobil pun meninggalkan Jakarta. Menuju Banten. Pukul 03.00 menjelang subuh Prof Huzaemah baru tiba di sana.

Sembilan hari kemudian Prof Huzaemah meninggal dunia. Jumat pagi kemarin.

Sang suami, Prof Dr Abd Wahab Abd Suhaimi, juga guru besar di UIN Jakarta, menunggu jenazah tiba di Jakarta. Aman. Tidak terjangkit Covid.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *