Mau Haji Mabrur, Meski Gagal Ibadah Haji? Berikut Kisah Penjahit Sepatu

  • Bagikan
Batal Berangkat Haji 2021
Foto: Imam Masdijil Haram, Syekh Bandar Al Baleelah, diserang pria bersenjata. Peristiwa penyerangan itu terjadi saat dia sedang ceramah Salat Jumat, (21/5/2021). (Dok: Twitter Haramain/@Haramaininfo)

matajatim.id-Pembatalan Calon Jamaah Haji Indonesia ke Tanah Suci Mekkah yang sempat heboh beberapa hari terakhir perlu dipahami dari berbagai perspektif.

Setidaknya, kisah seorang sufi ini bisa menjadi inspirasi bagi para Calon Jamaah Haji Indonesia yang lama menunggu antrean berangkat.

Fariduddin Ath-Thar dalam kitab Tadzkirah Al-Awliya’ mengisahkan seorang yang gagal ibadah haji. Tapi mendapat gelar haji mabrur.

Fariduddin memulai dengan kisah seorang sufi bernama Abdullah bin Mubarak (118-181 H/726-797 M), asal Marwaz, Khurasan (Iran).

Ketika menunaikan ibadah haji. Abdullah bin Mubarak berteduh di antara pilar Masjidil Haram. Tanpa sengaja beliau  tertidur.

Dalam tidurnya beliau bermimpi mendengar percakapan dua malaikat yang membahas jamaah haji.

“Berapa banyak orang berhaji tahun ini?,” tanya malaikat yang satu kepada malaikat lainnya.

“Enam ratus ribu orang,” jawab malaikat lainnya.

“Tapi, tak satu pun diterima, kecuali seorang tukang jahit sepatu bernama Muwaffaq yang tinggal di Damsyik (Damaskus). Dan berkat dia, maka semua jamaah yang berhaji diterima hajinya,” kata malaikat yang kedua.

Ketika Ibnu Mubarok mendengar percakapan kedua malaikat itu. Beliau terbangun.

Sepulang haji. Ibnu Mubarok langsung mencari keberadaan Muwaffaq.

Ibnu Mubarok mencari kediaman Muwaffaq di Damsyik. Secara telaten beliau telusuri kediamannya hingga  menemukannya.

Ibnu Mubarok lalu memberi salam dan  menyampaikan mimpi percakapan dua malaikat saat menunaikan ibadah haji.

Mendengar cerita Ibnu Mubarok. Air mata Muwaffaq tumpah hingga jatuh pingsan.

Setelah sadar, Ibnu Mubarok memohon cerita Muwaffaq hingga memperoleh predikat haji mabrur meski tak menunaikan ibadah haji.

Muwaffaq bercerita, bahwa dirinya selama lebih dari 40 tahun berkeinginan untuk melakukan ibadah haji.

Dari uang menjahit sepatu ia kumpulkan untuk naik haji. Jumlahnya sekitar 350 dirham (perak).

Ketika musim haji tiba, ia mempersiapkan diri untuk berangkat bersama istrinya.

Menjelang keberangkatan itu, istrinya yang sedang hamil mencium aroma makanan yang sangat sedap dari tetangganya.

Muwaffaq pun mendatanginya dan memohon agar istrinya diberikan sedikit makanan tersebut.

Tetangganya langsung menangis. Ia lalu bercerita kisahnya. “Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa,” katanya.

“Hari ini, aku melihat seekor keledai mati tergeletak dan kemudian aku memotongnya, lalu kumasak untuk mereka. Ini terpaksa kulakukan karena kami memang tidak punya. Jadi, makanan ini tidak layak buat kalian karena makanan ini tidak halal bagimu (bangkai),” terang Muwaffaq sambil menangis.

Mendengar hal itu, tanpa berpikir panjang Muwaffaq langsung kembali ke rumahnya mengambil tabungan 350 dirham untuk diserahkan kepada keluarga tersebut.

“Belanjakan ini untuk anakmu. Inilah perjalanan hajiku,” ungkapnya.

Akhir kisah ini, Fariduddin memberikan pelajaran  bahwa sesungguhnya haji adalah amal yang utama.

Memberi nafkah kepada orang orang miskin dan kelaparan merupakan amal yang lebih utama.

Katanya, beribadah haji hanya untuk kepentingan pribadi.

Sedangkan menyantuni orang-orang miskin dan kelaparan menjadi ibadah  yang memiliki nilai agung di hadapan Allah asal dilakukan secara ikhlas tanpa riya’ dan pamrih.

Wallahu a’lam.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *