Marak Pernikahan Dini, Mas Sadad Dicurhati Emak-Emak

  • Bagikan
Marak Pernikahan Dini
Mas Sadad saat menjawab curhatan emake-emak saat menjadi pembicara dialog bertema "Penguatan Perempuan sebagai Pendamping Anak dalam Upaya Mengurangi Angka Perkawinan Anak" yang diselenggarakan PC Fatayat NU Bondowoso, Sabtu (5/6/2021).

matajatim.idBONDOWOSO-Pernikahan dini menjadi salah satu faktor utama penyebab angka perceraian di Indonesia meningkat.

Dari data KPAI, jumlah pernikahan dini merata di seluruh Indonesia.

“Jumlah pernikahan anak di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat, tahun ini mencapai angka 11,21 persen, jauh di atas terget sebesar 8 persen dari total populasi perempuan berusia 20-24 tahun,” terang Anwar Sadad saat menjadi pembicara dalam dialog yang digelar PC Fatayat NU Bondowoso, Sabtu (5/6/2021).

Dialog bertema “Penguatan Perempuan sebagai Pendamping Anak dalam Upaya Mengurangi Angka Perkawinan Anak” berlangsung gayeng.

Saking serunya, Mas Sadad-panggilan akrab Anwar Sadad, dicurhati emak-emak yang hadir.

Saat sesi tanya jawab, seorang ibu bercerita jika di daerahnya fenomena pernikahan dini seakan menjadi sebuah tradisi turun temurun.

“Bagaimana ini pak. Karena anak di desa lulus sekolah sudah menikah. Kalau tak segera menikah takut jadi perawan tua,” curhat Ibu Muniah yang disambut tawa peserta ibu-ibu Fatayat NU Bondowoso.

Mendengar curhatan itu, Mas Sadad dengan gaya khasnya mengatakan, faktor ekonomi juga menjadi salah satu pemicu pernikahan dini. Terlebih di masa pandemi COVID-19 ini, sektor ekonomi semakin memburuk kena imbasnya.

Marak Pernikahan Dini
Mas Sadad saat mengisi dialog yang bertema dialog bertema “Penguatan Perempuan sebagai Pendamping Anak dalam Upaya Mengurangi Angka Perkawinan Anak” diselenggarakan oleh PC Fatayat NU Bondowoso.

Sebagian besar orang tua memilih menikahkan anaknya secara dini.

“Pandemi corona yang sudah berlangsung setahun lebih ini memperburuk kondisi perekonomian masyarakat. Akibatnya banyak orang tua mengambil jalan pintas menikahkan anaknya meskipun masih di bawah umur,” terang Plt Ketua DPD Partai Gerindra Jatim itu.

Sebagai solusi, Mas Sadad berharap peran pengurus dan anggota Fatayat NU Bondowoso untuk aktiv melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mencegah adanya pernikahan dini.

“Edukasi melalui sosialisasi baik untuk orang tua maupun anak harus dilakukan secara massif dengan menjelaskan sisi negatif dan risiko yang ditimbulkan dari pernikahan anak,” tambah politisi muda NU Jawa Timur ini.

Selain sosialisasi, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur ini menyebut perlunya penegakan aturan tentang larangan menikah di usia dini.

Katanya, regulasi usia minimal bagi perempuan untuk dinikahkan sudah diubah, semula 16 tahun menjadi 19 tahun.

Secara rinci aturan tentang perkawinan, hak dan kewajiban perlindungan anak sudah dijelaskan dalam UU tentang perlindungan anak.

Selain itu, Gubernur Jawa Timur juga mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang pencegahan pernikahan di usia anak.

Namun, SE Gubernur masih belum dilakukan sosialisasi secara massif.

Mas Sadad akan mengusulkan anggaran sosialisasi larangan menikah dini perlu ditingkatkan.

Muiz, Mata Jatim

banner 336x280
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *