Warga Madura Merasa Kehilangan Sosok KH Nuruddin A Rahman

  • Bagikan
Merasa Kehilangan Sosok KH Nuruddin A Rahman
KH Nuruddin A Rahman

matajatim.idBANGKALAN-Warga NU Jawa Timur dan warga Madura merasa kehilangan atas kepergian sosok ulama yang bersahaja, KH M Nuruddin A Rahman.

Dari berbagai komentar dan postingan di media sosial. Netizen mengaku sedih dan kehilang atas sosok Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Tanjung, Burneh, Bangkalan.

Maklum, semasa hidup, almarhum menjadi salah satu tokoh/ulama Madura yang selalu memperjuangkan nasib warga NU dan Madura.

Tak sedikit ada yang membuat rilis khusus yang dikirim ke redaksi matajatim.id memberikan kesaksian atas kebaikan dan dedikasi almarhum dalam memperjuangan warga NU Jawa Timur dan warga Madura.

Salah satuny adalah Firman Syah Ali. Aktivis dan tokoh pemuda Madura yang tinggal di Surabaya ini, membuat testimoni tentang sosok almarhum Kiai Nuruddin.

Firman mengaku kehilangan atas wafatnya Kiai Nuruddin. “Kami merasa sangat kehilangan, Madura kehilangan putera terbaiknya ulama besar yang menjadi teladan umat,” tulis Cak Firman.

“Mari kita doakan semua amal baik beliau diterima dan semua kesalahan beliau diampuni, Aamiin,” tambah Wakil Ketua Ormas Madura Urban ini.

Cak Firman bercerita, dirinya mendengar kabar duka KH Nuruddin A Rahman sempat belum percaya.

“Begitu mendapat konfirmasi dari KH Muhdhori A Rahman, saya menyadari bahwa KH Nuruddin A Rahman telah tiada. Terus terang air mata sulit dibendung, beliau orang baik, alim, lurus, tegas namun bijaksana” pungkas Bendara Umum IKA PMII Jawa Timur ini.

Sosok KH Nuruddin A. Rahman tidak asing di telinga masyarakat NU Jawa Timur dan Madura.

Sejak orde baru, almarhum aktif menyuarakan kepentingan warga Madura.

Bersama para ulama Madura, almarhum tergabung dalam Badan Silaturrahmi Ulama Pesantren Madura (Bassra) hingga dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjend).

Melalui Bassra, Kiai Nuruddin tak kenal lelah berjuang untuk kemaslahatan rakyat Madura. Sepertu rencana awal pembanguan penghubung Surabaya Madura di tahun 1995.

Kiai Nuruddin mendukung pembangunan di Madura asal jangan sampai menghilangkan kultur dan norma yang dianut warga Madura.

Terbaru, Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim ini peduli terbentuknya Provinsi Madura.

Dari sejumlah pertemuan, di antaranya, pertemuan antara Panitia Nasional Persiapan Pembentukan Provinsi Madura (PNP3M) dan para akademisi bersama DPRD Pamekasan beberapa waktu lalu, almarhum menyempatkan diri hadir.

Begitu pun ketika PNP3M, para rektor, para tokoh ulama dan pemuda bertemu dengan Menko Polhukam Prof. Mahfud MD di Jakarta. Alamarhum Kiai Nuruddin menjadi salah satu perwakilan yang menyampaikan langsung aspirasinya.

Bagi Kiai Nuruddin, salah satu alasan mengapa begitu semangat memperjuangkan kemandirian Madura, semata demi nasib masyarakat Madura.

Dari hasil kajiannya, jika cita-cita provinsi Madura terwujud, kesejahteraan masyarakat Madura kian meningkat. Termasuk pelayanan pemerintah akan lebih dekat sehingga masyarakat benar-benar merasakan kehadiran pemerintah.

”Lebih banyak manfaat ketimbang mudarat,” katanya kala itu.

Semasa hidup, almarhum juga menjabat Ketua Baznas Bangkalan untuk ikut memikirkan kaum dhuafa di Bangkalan.

Kiai Nuruddin wafat usai mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya. Dikabarkan meninggal pada pukul 22.45 WIB.

Jenazah akan disemayamkan di lingkungan Ponpes Al-Hikam, Tunjung, Burneh, Bangkalan. (syaiful)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *